Tugas LPK Pandanaran
By YUDHA HARY PRADANA
Dalam kajian pendidikan dikenal sejumlah ranah pendidikan, seperti
pendidikan intelek, pendidikan keterampilan, pendidikan sikap, dan
pendidikan karakter (watak). Pendidikan karakter berkenaan dengan psikis
individu, di antaranya segi keinginan/nafsu, motif, dan dorongan
berbuat.
Pendidikan karakter adalah pemberian pandangan mengenai
berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian,
tanggung jawab, kebenaran, keindahan, kebaikan, dan keimanan. Dengan
demikian, pendidikan berbasis karakter dapat mengintegrasikan informasi
yang diperolehnya selama dalam pendidikan untuk dijadikan pandangan
hidup yang berguna bagi upaya penanggulangan persoalan hidupnya.
Pendidikan
berbasis karakter akan menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang
sadar diri sebagai makhluk, manusia, warga negara, dan pria atau wanita.
Kesadaran itu dijadikan ukuran martabat dirinya sehingga berpikir
obyektif, terbuka, dan kritis, serta memiliki harga diri yang tidak
mudah memperjualbelikan. Sosok dirinya tampak memiliki integritas,
kejujuran, kreativitas, dan perbuatannya menunjukkan produktivitas.
Selain
itu, tidak hanya menyadari apa tugasnya dan bagaimana mengambil sikap
terhadap berbagai jenis situasi permasalahan, tetapi juga akan
menghadapi kehidupan dengan penuh kesadaran, peka terhadap nilai
keramahan sosial, dan dapat bertanggung jawab atas tindakannya.
Pembentukan pribadi
Karena
itu, sekolah yang akan mengimplementasikan pendidikan berbasis karakter
dapat memikirkan segi-segi sebagai berikut. Pertama, keberhasilan
pendidikan berbasis karakter terkait dengan kondisi peserta didik yang
landasan keluarganya mengharapkan tercipta iklim kehidupan dengan norma
kebaikan dan tanggung jawab. Dengan demikian, fungsi pendidikan berbasis
karakter untuk menunjukkan kesadaran normatif peserta didik, seperti
berbuat baik dan melaksanakan tanggung jawabnya agar terinternalisasi
pada pembentukan pribadi.
Organ manusia yang berfungsi
melaksanakan kesadaran normatif ialah hati nurani atau kata hati
(conscience). Organ penunjangnya ialah pikiran atau logika. Pendidikan
berbasis karakter diprogram untuk upaya kesadaran normatif yang ada pada
hati nurani supaya diteruskan kepada pikiran untuk dicari rumusan
bentuk perilaku, kemudian ditransfer ke anggota badan pelaksana
perbuatan. Contoh, mulut pelaksana perbuatan bicara atau bahasa melalui
kata-kata. Maka, sistem mulut memfungsikan kata-kata bersifat logis
atau masuk akal. Bahkan, dengan landasan kesadaran norma dan tanggung
jawab akan terjadi komunikasi dengan perkataan santun yang jauh dari
celaan dan menyakitkan orang lain.
Karena itu, pendekatan proses
pembelajaran di sekolah perlu disesuaikan, yaitu dengan menciptakan
iklim yang merangsang pikiran peserta didik untuk digunakan sebagai alat
observasi dalam mengeksplorasi dunia. Interaksi antara pikiran dan
dunia harus memunculkan proses adaptasi, penguasaan dunia, dan pemecahan
masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Keberhasilan anak menjalani
interaksi dengan dunia akan membentuk kemampuan merumuskan cita-citanya.
Bahkan, cita-cita itu dijadikan pedoman atau kompas hidup. Dengan
pedoman hidup itu ia menentukan arah sekaligus membentuk norma hidupnya.
Kedua,
kondisi sekolah dapat menciptakan iklim rasa aman bagi peserta didiknya
(joyful learning). Jika peserta didik tidak merasa aman, seperti merasa
jiwa tergoncang, cemas, atau frustrasi akibat mendapatkan pengalaman
kurang baik dari sekolah, maka ia tidak akan dapat menanggapi upaya
pendidikan dari sekolahnya. Bahkan, ia acap kali merespons upaya
pendidikan dengan bentuk protes atau agresi terhadap lingkungannya.
Peserta didik yang cerdas sekalipun, dengan merasa kurang aman, acap
kali konflik dengan lingkungan yang menyulitkan hidup.
Bahkan,
upaya mempertahankan hidupnya dengan berbuat tercela, tidak bermoral,
tidak bertanggung jawab, dan jahat. Perasaan aman hidup atau perasaan
yang tidak diliputi kecemasan di sekolah hanya mungkin bila suasana
sekolah mencintai anak dengan menciptakan iklim keterbukaan, mesra,
bahagia, gembira, dan ceria.
Dengan demikian, iklim tersebut akan
mampu membuka kata hati peserta didik, baik di sekolah maupun ketika
menghadapi dunia masyarakat. Kehidupan nyata dianggap sebagai obyek yang
menarik minat dengan kegairahan hidup dan penuh perhatian yang
merangsang pikirannya.
Ketiga, kebijakan sekolah dalam merumuskan
bahan belajar pendidikan berbasis karakter diorientasikan ke masa depan,
yaitu menggambarkan indikasi bentuk baru nilai-nilai peradaban
masyarakat. Dasar pertimbangannya adalah (1) proses pembangunan
berkonsekuensi terhadap perubahan bentuk baru nilai-nilai kebiasaan
hidup masyarakat, (2) pendidikan berbasis karakter harus berperan
sebagai pengimbang akibat sampingan proses pembangunan.
Indikator
bentuk baru nilai-nilai peradaban masyarakat dimisalkan mengambil
rumusan dari hasil pengamatan kehidupan kota yang mengalami pembangunan
pesat dan menimbulkan urbanisasi sehingga di kota tercipta pusat
permukiman pendatang baru yang seolah terputus dari akar sosial budaya
sebelumnya. Permukiman kota yang penuh sesak menimbulkan suasana
kehidupan yang mencekam dari kekhawatiran terjadinya instabilitas
sosial.
Jurang perbedaan
Selain itu,
rumusan didapat dari hasil pengamatan suasana keluarga dalam menghadapi
tata kehidupan baru, apakah mengambil sikap bertahan dengan kebiasaan
hidup sebelumnya, ataukah meninggalkan dan mengganti kebiasaan hidup
sebelumnya (permisif), sementara keadaan sekitar tidak ikut bertahan.
Terutama mengambil sikap mengenai kaitan dengan ekonomi keluarga,
pekerjaan, perdagangan, dan kecemburuan sosial.
Bagaimana kondisi
keluarga yang tetap bertahan, apakah menjadi terasingkan. Bagaimana pula
keluarga yang mengubah kebiasaan lama dengan yang baru, apakah secara
psikologis memperoleh kemantapan ataukah kepahitan dan kekacauan hidup.
Paling
tidak, pengamatan sepintas menunjukkan akibat sampingan pembangunan
yang pesat pada perubahan bentuk kehidupan masyarakat. Yaitu,
pembangunan yang menawarkan kesempatan bagi siapa saja yang
berkesanggupan sehingga mengakibatkan di satu pihak terdapat sebagian
anggota masyarakat yang cakap dan berani mengambil risiko untuk
menangkap manfaat penawaran pembangunan dan golongan ini akan maju.
Di
pihak lain, ada anggota masyarakat yang lamban bergerak dalam menangkap
manfaat dan golongan ini akan semakin tertinggal. Hasil akhir antara
yang cakap dan lamban menyebabkan munculnya jurang perbedaan kepemilikan
materi yang mudah diisukan sebagai pelanggaran asas keadilan.
Jurang
perbedaan kemajuan sisi materi yang dipahami secara sempit
mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai masyarakat. Yaitu, menguatnya
arus bentuk baru kehidupan masyarakat seperti nilai materi dan hara-hura
serta tampak memudar budaya santun, malu, kekeluargaan, kejujuran,
toleransi, kebersamaan, kesetiakawanan, dan gotong royong.
Sumber kompas, Penulis Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia